Minggu, 28 Februari 2016

Sisi Berlawanan Sepakbola Dalam Kehidupan Manusia

Sisi Berlawanan Sepakbola dalam kehidupan manusia
sisi berlawanan baik positif maupun negatif Sepakbola bagi kehidupan Manusia , sering kita jumpai disetiap lapangan bola setiap sore hari dan hari hari tertentu dan dimanapun, sudah pasti ada orang yang sedang bermain bola , mulai dari berbagai usia , agama , ras dan suku bangsa, ada juga yang sampai rela meninggalkan kampung halaman, ada yang menjadi pemain ada juga yang menjadi penonton. Nah dari itu semua , dapat kita ketahui apa saja hal - hal Positif ataupun negatif yang muncul dari Sepak bola. Berikut sedikit ulasannya ,

Dari sisi positifnya :


Membuat badan kita sehat
Dengan kita bermain seakbola maka tubuh kita akan banyak bergerak dan karena banyak bergerak maka tubuh akan semakin teracu metabolismenya dan akan membuat kita semakin sehat
Rezeki tambahan bagi penjual aksesoris tambahan sepakbola
dalam memainkan sepakbola banyak sekali aksesoris tambahan seperti bola, sepatu, baju dan celana, dll. jadi dengan hanya kita memainkan sepakbola saja kita sudah membuat rezeki bagi penjual aksesoris tersebut. Belum lagi jikalau kita jadi pemain profesional banyak sekali yang dapat dijual dari pemain tersebut seperti poster, replika, dll.
Mempersatukan masyarakat
Dalam Pertandingan sepakbola pasti ada pendukung dari masing2 tim yang sedang bertanding, nah dalam pertandingan tersebut terdapat berbagai macam tipe orang, ras, gender, usia, agama, dll jadi dengan hanya sepakbola maka kita akan menjadi satu untuk mendukung tim yang kita dukung.

itulah sebagian sisi positif dari sepakbola tentunya masih banyak sisi sisi positif lainnya yang tidak mungkin di jelaskan secara detail lewat tulisan jika tidak dirasakan sendiri oleh anda sendiri

Lalu , segi negatifnya seperti apa Pak ? negatif tentu erat hubungannya dengan hal hal buruk , kita ambil saja contoh , kapan pertandingan main , kapan suporter datang ? bola main jam 19.00 wib , suporter datang sebelum waktu jam 18.00 wib , maksud saya disini mau merujuk ke para Muslimin yang nonton bola melupakan waktu sholat ( meskipun banyak juga yang tetap sholat , jempol buat mereka ) namun sepak bola disini telah menjadi salah satu cabang bagi kita untuk meninggalkan ibadah , belum lagi para pemain yang memulai laga pas hampir masukwaktu sholat isya , kan gag ada sejarah di tengah permainan ijin sholat ? kecuali kerja Pabrik bisa .

Itu baru satu Negatifnya bola , belum lagi dampak dari ulah pemain , supoter yang kadang harus baku hantam menimbulkan kerusakan dan kebencian , hingga mendarah daging , tak perlu disebut , di Indonesia ada perseteruan dua kelompok suporter seperti kasus ini .

Di luar lapangan , para pemain capek bermain , eh di luar sana banyak yang memanfaatkannya untuk perjudian tebak skor , haram kah perjudian ? YA! NEGATIF?YA!

itulah sekelumit sisi negatifnya sepakbola walaupun masih ada yang lain mungkin akan di bahas lain waktu karena sisi negatif dari sepakbola ini cakupannya luas sekali.


Kamis, 25 Februari 2016

Awal Mula Lahirnya Olahraga SepakBola Di Dunia

Semua orang di dunia pasti tahu permainan sepak bola. Sepak bola berasal dari kata “sepak” yang artinya tendangan, dan “bola” yang artinya sebuah alat berbentuk bulat berbahan karet. Sehingga sepak bola dapat diartikan yaitu sebuah permainan olah raga yang dilakukan pemain dengan cara menendang bola dan memasukkannya ke gawang lawan. Permainannya terdiri dari 2 tim, dimana setiap tim terdiri dari 11 orang termasuk 1 orang penjaga gawang.
Awal Mula Sepak Bola
Dibawah ini ada banyak sumber sejarah yang mengemukakan tentang awal mula adanya permainan sepak bola, diantaranya:
Permainan Episkyros yang menyebabkan seorang pemuda tewas akibat terkena tendangan bola.
Bukti kedua yang paling dapat dipertanggungjawabkan, yakni sepak bola dipelopori oleh permainan dari Tiongkok bernama Cuju. Di Korea dikenal dengan nama Chuk-guk, sedangkan di Jepang namanya Kemari. Dalam permainan ini, gawang atau tempat memasukkan bola berbentuk sebuah lubang kecil yang digantung setinggi 3 meter dari atas tanah. Aturan permainannya sama, bola kulit ditendang hingga masuk ke dalam lubang kecil tersebut.
Adapun referensi lain, seperti pada tahun 1956 di Greenland ditemukan permainan yang serupa dengan sepak bola. Tahun 1610 permainan Pahseman yang dimainkan oleh suku Amerika asli. Di Australia disebut Marn Grook, dan di Selandia Baru disebut Ki-o-rahi.
Mob football memulai babak baru permainan sepak bola di Inggris dan barulah namanya menjadi football pada abad ke-15 di Skotlandia yang sempat dilarang.
Di akhir abad ke-15 mulai muncul nama dribbling, dimana bola diguling-gulingkan menggunakan kaki. Catatan ini berasal dari permainan sepak bola Cawston.
Tahun 1486 dicatat oleh Juliana Berners dan tahun 1580 oleh Philip Sidney. Kemudian pada tahun 1584 dan 1602 dicatatlah istilah “gol” oleh John Norder dan Richard Carew.
Permainan Sepak Bola Modern
Di Vulgaria Inggris pada abad ke-16, seorang murid bernama Richard Mulcaster di sekolah Eton dan Winchester College tercatat sebagai pemain terbaik dalam sepak bola di posisi pelatih dan wasit. Dan sejarah sepak bola yang terkenal dengan permainan kasar serta tidak beraturan berhasil diubah. Sejarah ini dicatat pada tahun 1519 oleh kepala sekolah tersebut bernama William Herman.
Francis Wilughby membuat artikel tentang diagram gambar lapangan sepak bola termasuk gawang, trik, pemilihan pemain, skor, hingga aturan permainan dimana pemain dilarang menendang dan melukai pemain lawan.

Adapun menyusul peraturan adanya offside sekitar tahun 1810-1850. Offside adalah pemain yang berdiri saja diantara bola dan gawang akan dianggap keluar dari sisi mereka. Namun aturan offside ini masih belum seragam.

Sampai pada akhirnya dibentuklah sebuah federasi sepak bola dunia yang dinamakan FIFA pada tanggal 21 Mei 1904. FIFA didirikan di Rue Saint Honore 229, Paris yang bertujuan untuk mengatur segala urusan persepakbolaan di seluruh dunia.


Salut Lotitto

Keputusan Claudio Lotito membekukan status Cristian Ledesma dan Goran Pandev memang mengernyitkan dahi kita. Kedua pemain ini mungkin masih tergolong pemain-pemain terbaik Lazio saat ini, namun pernyataan keinginan mereka untuk meninggalkan Lazio pada akhir musim lalu turut berperan penting atas sikap tegasnya Lotito. Memang sejak awal sesi transfer awal musim ini Lazio berniat menjual mereka, tapi ternyata tidak ada satupun tawaran resmi yang menggoda Lazio, alhasil, sampai sesi Transfer Window 1 berakhir , Pandev dan Ledesma masih berstatus sebagai pemain Lazio.

Lotito ternyata tidak mau memaafkan mereka dan kemudian dia mengintervensi pelatih Davide Ballardini untuk tidak memakai jasa kedua pemain ini. Lotito pun menuai kritikan oleh Laziale maupun para pemerhati sepakbola.Namun, saya sangat mendukung langkah Lotito ini. Bukan klub yang membutuhkan pemain, tapi pemain yang membutuhkan klub. Lotito juga masih tergolong waras jika dibandingkan Maurizio Zamparini, presiden Palermo yang sering menelurkan perilaku-perilaku aneh.

Coba kita runut kebelakang, Lazio tidak pernah berusaha menjual pemain yang masih bangga untuk mengenakan lambang Lazio didada, meski pemain itu sudah tidak mampu memberikan performa maksimal untuk Lazio, seperti Simone Inzaghi,Stephen Makinwa dan Cristian Manfredini, ataupun pemain yang tidak berhasil mendapat tempat di tim utama, seperti Lucas Correa atau Alberto Quadri, kerap dipinjamkan keluar,tanpa pernah dijual.Contoh paling sahih, kini Roberto Baronio berstatus sebagai salah satu wakil kapten Lazio, padahal di setiap musimnya dia selalu dipinjamkan keluar, namun karena Baronio punya determinasi kuat untuk Lazio, Lazio musim ini mau memberikan kesempatan untuk membuktikan dirinya.

Kondisi itu berbanding terbalik untuk mereka yang ingin meninggalkan Lazio dengan menyiratkan tanda tidak setia lagi membela panji Lazio, seperti Valon Behrami, Fabio Liverani, Aparecido Cesar,Giulliano Giannicheda dkk, Lotito sama sekali tidak menghalangi mereka untuk hengkang dari Lazio,padahal mereka pemain kunci Lazio ketika itu.Bagaimana mungkin pemain yang sudah tidak punya hati lagi untuk klubnya, bisa memberi yang terbaik untuk timnya ?

Adapun Lotito selalu berhasil mendatangkan bintang-bintang baru yang tak kalah hebatnya dengan bintang-bintang Lazio terdahulu. Lotito juga telah berhasil membangun cerminan, Lazio bukanlah tim kecil yang bisa didikte oleh pemainnya.

Karakter kuat Lotito itu yang membuat saya semakin yakin Lazio akan kembali ke masa-masa jayanya seperti akhir era 90an, meski jalan itu sekarang masih terjal, Forza Lazio !

Selasa, 23 Februari 2016

Kekuatan Dan Kelemahan Argentina Vs Jerman


Kekuatan Jerman – Jerman memiliki pemain yang hampir merata di setiap lini, bahkan mereka juga mempunyai kedalaman skuad yang bagus sampai bangku cadangan. Kiper Jerman Manuel Neuer sudah terjamin kualitasnya, terbukti saat Jerman melewati Perancis di babak perempat final. Di lini tengah Jerman diisi oleh segudang pemain yang bertipe leader, Toni Kroos, Schweinsteger, Muller, Khedira, Ozil adalah para pemain matang secara usia dan pengalaman. Kolektifitas juga merupakan kekuatan utama tim Jerman, terlihat permainan Jerman begitu kompak dan organisasi permainannya begitu rapi.
Kelemahan Jerman – Jerman di Final Piala Dunia 2014 melawan Argentina distatuskan sebagai tim unggulan, ini akan menjadi beban tersendiri bagi mereka, apalagi mereka begitu perkasa ketika mengalahkan Brasil 7-1 di Semifinal, jika Jerman mampu tampil lepas, kemenangan akan menjadi mudah bagi Jerman.

Kekuatan Argentina – Kelebihan Argentina ada pada beberapa pemain bintangnya, Messi, Aguero, Mascherano sudah tidak diragukan lagi kualitasnya. Selain itu kelebihan Argentina adalah pada mental mereka yang saat ini sedang menanjak usai melewati Belanda melalui adu penalti. Motivasi Argentina juga sangat bagus, sejak babak sistem gugur terlihat sekali Argentina begitu solid bermain.
Kelemahan Argentina – kelemahan Argentina adalah pada strategi, jika para bintangnya cedera atau dalam ount of form maka Argentina akan mengalami kesulitan, Argentina seperti tidak memiliki strategi jitu di tiap pertandingan, ini terbukti kala ditahan Belanda sampai adu penalti.
Masing-masing tim memiliki peluang yang sama untuk memenangi pertandingan dan Menjadi Juara, maka siapa saja tim yang lebih siap dan bermain tenang menghadapi tekanan partai Final, maka akan lebih berpeluang memenangkan laga untuk menjadi juara Piala Dunia 2014.


Minggu, 21 Februari 2016

Bencana Sepak Bola Belanda



Akhir dari sebuah era. Rasa-rasanya kalimat ini memang tepat disematkan dalam tubuh tim nasional Belanda yang gagal melaju ke putaran final Euro 2016 di Perancis. Melakoni laga pamungkasnya tadi malam, Belanda dipermalukan oleh tamunya, Republik Ceko dengan skor 2-3 di Amsterdam Arena. Hasil ini semakin mempertegas kegagalan anak asuh Danny Blind yang sedari awal babak kualifikasi tidak menunjukkan performa yang menjanjikan.


Gagal lolos ke piala Eropa bukanlah pil pahit bagi Belanda, melainkan telah menjadi aib bagi negeri kincir angin tersebut. bagaimana tidak, pada piala dunia 2014 lalu, Belanda mampu menunjukkan jati dirinya sebagai tim besar. Marwah Total Football kembali menyeruak dibawah komando Louis Van Gaal yang sepanjang turnamen menunjukkan performa impresif dan membawa anak asuhnya hingga babak semifinal, sebelum dikalahkan Argentina lewat adu penalti.


Kegagalan De Oranje ini memang bukan yang pertama kali, Belanda juga pernah gagal ke putaran final Euro 1984 yang lagi-lagi bertempat di Perancis. Tapi tentu saja, ada yang berbeda antara kegagalan Belanda tahun ini dengan tahun 1984, mengingat kiprah Belanda setahun lalu di Brazil yang apik sama sekali tak berbekas selama babak kualifikasi berjalan.


Pergantian pelatih dari Louis Van Gaal ke Guus Hiddink seharusnya tidak menjadi masalah serius, karena Hiddink bukanlah orang baru di sepak bola Belanda. Sebagai pelatih senior, Hiddink sudah banyak makan asam garam kesuksesan baik bersama negara leluhurnya ataupun negara lain. Ia sempat membawa negeri kincir melaju ke semifinal piala dunia 1998 di Perancis dengan mengorbitkan nama-nama tenar seperti Denis Berkhamp, De Boer bersaudara, Patrick Kluivert, dan masih banyak lagi. Namun catatan manis ini seakan tak terulang pada masa bakti keduanya bagi negara.


Tidak berkembangnya permainan Belanda memaksa Guus Hiddink turun dari jabatannya, tekanan dari dalam dan luar lapangan membuatnya harus merelakan kursi pelatih jatuh ke tangan asistennya, Danny Blind yang kemudian menjadi pelatih utama.


Beberapa waktu lalu, sesaat setelah Guus Hiddink mengundurkan diri, saya sempat berbalas tweet dengan akun @Oranje_Live yang mengumumkan pengunduran diri sang meneer, seketika, saya pun mengutarakan pendapat, dengan mengajukan nama Ronald Koeman dan De Boer sebagai suksesor. Akun yang berbasis di Amsterdam ini pun membalas mention saya sembari berujar bahwa Danny Blind yang akan mengambil alih pelatih kepala, sedangkan Koeman dan De Boer dipersiapkan untuk masa depan.


Blind yang juga menjabat asisten pelatih di era Van Gaal nyatanya tak mampu menjawab keraguan publik De Oranje. Dibawah kepemimpinannya, Belanda malah tak beranjak dari keterpurukan. Negara yang diatas kertas mudah untuk ditaklukkan seperti Islandia, Turki, Kazakhstan, dan Republik Ceko malah mampu membalikkan keadaan, dari dua pertandingan melawan ketiga negara tersebut, tak sekalipun Belanda meraih kemenangan. Bahkan melawan Islandia dan Ceko, dua-duanya berakhir dengan kekalahan.


Mari lupakan kegagalan seorang pelatih, karena itu memang sudah menjadi anomali tersendiri dalam dunia sepak bola. Satu faktor utama yang menjadi lumbung masalah adalah para pemain. Siapa yang selama ini mengenal nama-nama seperti Riedewald, Bruma, Zoet, Tete, El Ghazi, Van Dijk, Vurnon Anita, Narsingh? Hampir semua fans Belanda tidak ada yang mengenal pemain-pemain ini – kecuali mereka yang mengidolai Ajax Amsterdam atau yang menonton Eredivisie – sebagai pendukung Belanda, saya pun tak pernah mendengar nama mereka sebelumnya, wajah mereka pun belum sekalipun terlihat di mata saya.


Skuad negara bunga tulip ini tidak hanya di dominasi oleh pemain muda, tetapi juga disesaki oleh pemain baru yang masih nir jam terbang. Saya pun teringat dengan ucapan Coach Justin – yang seorang keturunan Belanda – ia mengatakan bahwa “tim nasional Belanda kini diisi oleh pemain-pemain yang engga jelas, medioker, dan hanya mengandalkan pemain asal Ajax Amsterdam saja”. Anggapan ini memang ada benarnya, karena mayoritas pemain Belanda saat ini berasal dari Ajax Amsterdam, atau pernah bermain untuk De Amsterdamers.


Belanda yang dari dulu dikenal mahir dalam mencetak pemain besar, kini seperti stagnan dalam memproduksi pemain bintang. Saat ini saja, yang rasa-rasanya pantas dianggap pemain bintang hanyalah Memphis Depay dan Daley Blind, selebihnya, tak ada yang mampu me-remaja-i lini tengah dan depan yang diisi Wesley Sneijder, Arjen Robben, Robin Van Persie, dan Huntelaar yang semakin tua dimakan usia.


Satu lagi permasalahan yang cukup penting di Belanda adalah ketiadaan penjaga gawang handal sepeninggal Van Der Sar dan Marteen Stekelenburg, yang membuat gawang Belanda dengan mudah dibobol lawan. Tim Krull yang bermain apik bersama Newcastle United jarang mendapat kepercayaan, baik di era Van Gaal, Hiddink, ataupun Blind. Para meneer ini lebih senang memasang Jasper Cillessen sebagai tembok terakhir pertahanan yang penampilannya inkonsisten.


Stok pemain tim nasional negeri kincir angin – yang terkesan dipaksakan membela negara – Ini berbanding terbalik dengan stok pelatih mudanya yang telah menuai sukses di tingkat club. Ronald Koeman, Marco Van Basten, Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Frank De Boer, Philip Cocu, dan Geovanni Van Bronkhost kini berkamuflase dari pemain hebat menjadi pelatih hebat. Cocu yang baru menjabat pelatih kepala PSV Eindhoven musim lalu bahkan langsung mempersembahkan juara liga yang selama ini dimenangkan oleh Ajax Amsterdam-nya De Boer. Belum lagi nama-nama beken lainnya seperti Kluivert dan Ruud Van Nistelrooy yang kini berada dalam jajaran tim pelatih Belanda


Sepak bola Belanda, yang terkenal dengan Total Football nya, berpredikat sebagai juara tanpa piala, kini telah memasuki era barunya. Sebuah era yang tak pernah diharapkan oleh siapapun. Era baru yang biasanya diharapkan sebagai pertanda juara, kini malah menjadi bencana.  

Senin, 15 Februari 2016

Tidak Terima Kartu Merah Pemain Ini Tembak Wasit Hingga Tewas



Pernahkah Bolaneters membayangkan jika lawan di atas lapangan ternyata membawa sepucuk senjata dan mengeluarkannya di tengah pertandingan? Well, hal ini benar-benar terjadi di Argentina.

Dilansir Mirror, sebuah laga sepakbola di distrik Cordoba akhir pekan kemarin berubah menjadi tragedi setelah seorang pemain yang tak terima dihukum kartu merah menembak sang wasit hingga tewas di tempat.

Pemain tersebut diganjar kartu merah setelah mengganjal lawan dengan keras. Ia pun bergegas ke pinggir lapangan. Rupanya ia mengambil pistol di tasnya dan kemudian berlari kembali ke lapangan dan menembak wasit tiga kali di kepala, dada, dan leher! Wasit bernama Cesar Flores itu langsung tewas di atas lapangan.

Selain itu, pemain yang kini masih buron tersebut juga melukai seorang lawannya dengan tembakan di dada. Beruntung nyawa sang pemain dapat terselamatkan setelah dibawa ke rumah sakit.

"Semuanya terjadi selama pertandingan itu. Kami tak tahu apa yang terjadi dengan wasit tapi pemain itu marah dan pergi mengambil senjatanya dan membunuhnya," ujar petugas kepolisian setempat.

Jangan ditiru ya,

Agen Bola Tersukses dan Terpercaya Di Indonesia?

Agen bola yang terpercaya dan yang tersukses di Indonesia? Mungkin kita dapat benar-benar mengenal agen bola yang menjadi favorit serta pilihan masyarakat Indonesia sebagai member dari Agen bola.
Menjadi agen bola terpercaya mungkin merupakan sebuah kebanggan tersendiri buat sebuah Agen Bola, Namun meskipun sudah dipercayai member, masih ada factor kekurangan yang mungkin ada pada beberapa agen bola di Indonesia saat ini. Yakni sebuah factor kesuksesan dalam menjalankan peranan Agen Bola tersebut. Meskipun sudah dipercaya oleh masyarakat, namun kenyataan masih banyak member ataupun calon member yang ragu untuk mencoba bermain di agen bola tersebut.
Disinilah diperlukannya faktor-faktor kesuksesan yang menjadi salah satu penyebab agen bola banyak digemari. Mungkin faktor seperti layanan, fitur menarik yang ditawarkan menjadi salah satu poin penting dalam menjalankan usaha Agen Bola ini agar dapat menjadi terpercaya dan sekaligus menjadi yang tersukses.
Pelayanan terhadap member menjadi salah satu bagian yang terpenting dan menjadi kunci tercapainya kesuksesan sebuah AgenBola Terpercaya. Sedangkan untuk fitur-fitur menarik, promo, maupun cashback menjadi faktor pelengkapnya yang juga turut mengambil bagian. Agen Bola Terpercaya dan Tersukses di Indonesia umumnya memiliki semua faktor yang disebutkan diatas.
Dengan landasan kepercayaan yang mementingkan kepentingan member diatas segalanya, para Agen bola Terpercaya kian berlomba untuk mendapatkan perhatian dari calon membernya. Dengan iming-iming mendapatkan cashback serta promo kadang terbukti berhasil mendapatkan beberapa kepercayaan dari member.

Salah satu Agen bola terpercaya yang mendapatkan kesuksesan dan kepercayaan dari member adalah clickbet88. Hal ini karena kami memperhatikan semua keluhan dari member serta memberikan tips-tips dan masukan untuk para member, kami menjaga kepentingan member dengan solusi yang terbaik. Interaksi antar member dan layanan Customer Support selalu menjadi cara efektif untuk mengetahui keluhan para member sangat mengerti akan hal tersebut. Jadi? anda tidak akan ragu lagi untuk segera bergabung menjadi salah satu dari member. Segera daftarkan Diri anda hari ini juga! Ingat pendaftaran gratis.

Minggu, 14 Februari 2016

Jangan buru buru menjagokan Leicester City Juara Liga Inggris


Apakah masih ada yang meragukan kepantasan Leicester City untuk menjuarai Liga Inggris musim ini?
Jamie Vardy dkk secara meyakinkan melewati dua laga berat secara beruntun.
Liverpool dan Machester City adalah dua klub elit yang dihadapi Leicester pada awal Februari.
Pertemuan terakhir Leicester dengan dua klub ini pun terbilang ketat bahkan berakhir dengan tidak mengenakkan bagi anak asuh Claudio Ranieri tersebut.
Liverpool adalah satu dari dua klub yang sejauh ini mampu mengalahkan Leicester selain Arsenal di musim ini.
Bertandang ke Anfield pada 26 Desember 2015 dalam laga boxing day, Leicester takluk 0-1.
Pun demikian halnya dengan Machester City.
Salahsatu kandidat juara ini tidak mampu dikalahkan Leicester pada laga akhir tahun 30 Desember 2015 meski  laga dilangsungkan di kandang The Foxes.
Dua hasil tidak meyakinkan melawan Liverpool dan City pada periode padat pergantian tahun lalu menjadi alasan Leicester digeser Arsenal dari posisi puncak klasemen dan gagal menjadi juara paruh musim.
Nah, dengan kondisi pertemuan terakhir seperti itu, wajar jika kemudian laga melawan Liverpool dan City pada awal Februari ini menjadi sangat krusial bagi Leicester.

Fakta kemudian tersaji ketika Jamie Vardy dkk melalui dua laga berat itu dengan sukses.
Diawali pada 2 Februari 2016 saat Liverpool yang bertandang ke kandang Leicester ditaklukkan dengan skor telak 2-0.
Pelatih timnas Inggris, Roy Hodgson menyaksikan langsung ketajaman Jamie Vardy mencetak dua gol kemenangan.
Salahsatu golnya bahkan bisa dikategorikan sebagai gol terbaik Liga Inggris musim ini.
Sebuah gol spektakuler saat Vardy menerima umpan panjang dari belakang dan tanpa membiarkan bola menyentuh tanah langsung dihajar dengan sepakan keras dari luar kotak penalti yang membuat  bola melengkung indah masuk ke gawang Simon Mignolet.
Saking spektakulernya, Juergen Klopp bahkan mengakui dirinya hampir saja ikut merayakan gol tersebut.
Lepas dari Liverpool, The Foxes langsung dihadapkan dengan laga berat lainnya melawan Manchester City pada 6 Februari 2016 atau hanya berselang empat hari.
Makin berat karena laga dilangsungkan di Etihad Stadium kandang City.
Alih-alih mendapatkan hasil tidak maksimal, Leicester bahkan dianggap mengirim sinyal kuat kepantasan mereka menjadi juara usai menaklukkan Sergio Aguero dkk dengan skor telak 3-1.
Mengalahkan tim sekuat Manchester City di kandangnya dalam sebuah laga yang sarat tekanan karena status keduanya sebagai penghuni papan atas klasemen tentu menjadi catatan khusus bagi Leicester.
Leicester kini nyaman berada di puncak klasemen dengan poin 53 dan berselisih 5 angka dari Spurs dan Arsenal di posisi dua dan tiga.
Dengan Liga Inggris sudah masuk ke bulan Februari, pekan-pekan terakhir di liga sepakbola paling popular ini sudah didepan mata.
Apakah Jamie Vardy dkk mampu mengulangi sensasi yang ditorehkan Blackburn Rovers saat menjuarai Liga Inggris musim 1994/1995?
Kemenangan meyakinkan Leicester atas Liverpool dan Manchester City dalam dua laga krusial beruntun dianggap semakin menguatkan sinyal kepantasan Leicester menjadi juara Liga Inggris musim ini.
Tetapi benarkah dua kemenangan special itu menjadi garansi Leicester ke tangga juara?

Mengalahkan Liverpool saat ini sesungguhnya bukan lagi sesuatu yang istimewa.
Penampilan The Reds bersama Juergen Klopp bisa dikatakan belum meyakinkan.
Meski berhasil melaju ke final Piala Liga Inggris usai bersusah payah menempuh babak adu penalty saat menyingkirkan Stoke City, Liverpool bersama Klopp tidak terlalu menggembirakan jika berlaga di Liga Inggris.
Setelah ditahan tim calon degradasi Sunderland 2-2 pada 6 Februari 2016, praktis Liverpool baru sekali merasakan kemenangan dalam 6 laga terakhirnya di Liga Inggris.
Terasa menyepelekan kemenangan Leicester atas Liverpool?
Tidak juga.
Tetapi jika Sunderland saja mampu menahan Liverpool di Anfield, tentu bukan hal yang mengejutkan jika Leicester City mampu menaklukkan The Reds dihadapan fans The Foxes.
Jangan lupakan pula bagaimana klub petarung degradasi lain seperti Newcastle United mampu mengalahkan Liverpool 2-0.
Bahkan sebelumnya klub sekelas Watford bisa-bisanya menang telak 3-0 atas Liverpool.
Jadi rasanya terlalu dini mengkaitkan kemenangan Leicester atas Liverpool sebagai dasar kepantasan mereka sebagai kandidat terdepan juara Liga Inggris musim ini.
Lalu bagaimana dengan kemenangan meyakinkan 3-1 atas Manchester City di Etihad Stadium?
Simak komentar Pellegrini usai City dihajar Leicester dihadapan pendukung The Citizen.
“ akan mudah untuk mengatakan Ya (penunjukan Pep mempengaruhi pemain) tetapi itu tidaklah benar”
Pellegrini menolak bahwa penunjukan Pep Guardiola mempengaruhi performa pemain.
Faktanya pada laga pertama usai penunjukkan Pep Guardiola, Manchester City takluk dikandang sendiri dalam laga krusial melawan Leicester City.
City yang sudah berada di final Piala Liga Inggris, masih bertarung untuk titel juara Liga Inggris, masih bertahan di FA Cup dan sudah masuk ke fase gugur Liga Champions sepertinya tidak tahu bagaimana menjaga motivasi pemain yang tengah berjuang.
Pengumuman penunjukan Pep Guardiola sebagai pengganti Pellegrini musim depan disampaikan hanya beberapa hari jelang laga melawan krusial melawan Leicester City.
Tidak heran jika kekalahan telak dikandang sendiri dari Leicester dipandang sebagai akibat pengumuman penunjukan Pep sebagai pengganti Pellegrini.
Bisakah anda membayangkan perasaan Yaya Toure yang selama ditangani Pellegrini menjadi andalan di lini tengah akan bertemu kembali dengan Pep Guardiola sosok yang membuangnya dari Barcelona?
Ya, Pep Guardiola dulu lebih memilih Sergio Busquet ketimbang Yaya Toure.
Wajar jika jenderal lapangan tengah City itu memikirkan opsi yang tersedia baginya jika Pep mulai melatih City musim depan.
Singkat kata, penunjukan Pep sudah mempengaruhi performa salahsatu dinamo lini tengah City yang kerap tampil sebagai pemain kunci.
Arsene Wenger sendiri mengiyakan kemungkinan penunjukan Pep mempengaruhi performa pemain-pemain City.
“Yang pasti, efeknya tidak akan netral”
Jadi, kemenangan krusial Leicester atas Manchester City di Etihad Stadium bisa saja dikaitkan sebagai sinyal kuat kepantasan Jamie Vardy dkk sebagai juara Liga Inggris musim ini.
Tetapi sesungguhnya ada sinyal lain yang lebih kuat yaitu sinyal bahwa penunjukan Pep berpotensi mempengaruhi perfoma pemain-pemain City.
Leicester City mungkin saja mendapati hasil yang berbeda jika laga melawan City di Etihad Stadium tidak diiringi berita penunjukan Pep sebagai pengganti Pellegrini.
Dalam laga yang dimenangi Leicester itu pun, City sesungguhnya mendominasi permainan dengan penguasaan bola sebesar 66 persen.
Tembakan yang dihasilkan anak asuh Pellegrini bahkan lebih banyak daripada anak asuh Ranieri.
Keunggulan statistik ini tampaknya menjadi tidak berarti kala persoalan non teknis seputar pergantian pelatih musim depan berada di pikiran pemain-pemain City.
Well, Leicester saat ini memang menduduki puncak klasemen dengan keungggulan 5 poin dan Liga Inggris sebentar lagi memasuki pekan-pekan terakhir.
Tetapi segala sesuatu masih sangat mungkin terjadi.      
Jangan lupakan bahwa sejak Manchester City merebut titel juara Liga Inggris musim 2011/2012 secara dramatis bersama Roberto Mancini, ligasepakbola paling popular ini kerap dimenangkan secara dramatis dan mengejutkan.
Kejadian Steven Gerrard terpeleset saat Liverpool ditaklukkan Chelsea dan kemudian disalip Manchester City dipekan-pekan terakhir musim 2013/2014 tentu masih hangat dalam ingatan kita bukan?